Selasa, 04 Mei 2010

ASAL MULA TRIBUWANA

Sampai sekarang jalan yang di hidupi oleh Khrisna tidak pernah dia mengerti...apa yang membuat dia lebih dan lain dari orang seumurnya, perawakannya yang bisa di sebut biasa tidak memiliki kecenderungan berbeda dengan yang lain..., tapi apa yang ada dalam pikirannya itu yang membuat dia istimewa...siapakah dia sebenarnya...
Untuk mengenal dirinya...asal usul tidak boleh diabaikan dalam kisahnya...
Inilah prakisah jalan hidupnya yang penuh warna.

Seperti semua kisah...cerita inipun dimulai pada suatu masa...waktu dimana manusia tidak seegois kini...dimana nilai kemanusiaan dan harkat di junjung tinggi.
Nilai Dharma dan Ksatriya menjadi panutan dan gaya hidup setiap orang..., dan kehidupan masarakat yang tenang dan berpadu adalah gambaran hidup kesempurnaan di masa lampau.
Dimasa sperti inilah lahir seorang pria...yang dikemudian hari akan dikenal sebagai "Si Penelan Iblis"
Hidup saat itu sangat nyaman dan tenang di kampung itu...namun itu semua hilang seketika dengan hadirnya sesosok makhluk gaib yang menteror kehidupan masyarakat.
Kampung yang tenang itu kedatangan tamu tak diundang berupa manusia setengah buaya, berikatkan kepala berwarna emas.

Sepekan lamanya makhluk ini mengancam kehidupan masyarakat disana, akhirnya pemimpin Kotapraja pun turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini, pasukanpun digalang dan sangkar besar untuk menangkap makhluk itupun di siapkan...sebuah sangkar dari baja yang ditarik oleh 4 kuda diatas kereta, maka berangkatlah adipati beserta rombongan ke kampung Melayu meninggalkan istrinya yang sudah hamil tua yang mendekati masa kelahirannya.

Kedatangan mereka disambut meriah oleh penduduk setempat...namun suasana meriah itu tidak berlangsung lama, karena tidak lama setelah kedatangan mereka, makhluk itu terdengar mendekat...dengan suara ciri khasnya...seperti lempengan2 besi yang beradu menimbulkan suara yang nyaring ketika dia berjalan, setiap punggawa dan adipati bersiap menghadapinya...sambil mempersiapkan aji dikepalan tangannga mereka menunggu dengan waspada.

Dari balik semak sepasang mata beringas memandang ke arah adipati, menyadari sesuatu sedang mengancam nyawa tuannya, kuda kesayangan adaipati itu menyeruak lompat dan menahan gigitan makhluk buas itu dengan badannya, sehingga adipati jatuh terjerebab ke tanah, dan kuda itu pun terkapar dengan luka menganga dibagian dada depan..., "Mang Karsa" pekik adipati mendekati kuda kesayangannnya..."Tuan, sepertinya sampai disini pelayananku untuk tuan,...uhukk..uhukk.. terima kasih untuk semua kebaikan Tuan terhadap kami sekeluarga..., Den Karsa masih kecil tapi ijinkanlah dia kelak besar nanti mengabdi kepada anak keturunan tuan...karena ini semua tidak akan pernah bisa membalas kebaikan tuan...uhuk...selamat jalan den..."dengan lenguhan panjang maka Mang Karsa merenggang nyawa...(Lihat kisah Mang Karsa dalam akhir kutipan)

Sementara para punggawa nyawapun berjatuhan mencoba menghadang dan memonjokkan makhluk buas itu ke kandang baja yang telah disiapkan, panglima tangan kanan kepercayaan Adipatipun mendekat sambil memegang lukanya yang terlihat cukup parah..."ampun gusti...tapi keadaan disini tidak aman untuk gusti...mohon gusti kembali ke kotapraja dan membentuk rencana baru untuk menangkap makhluk ini...gusti..."
Namun adipati tidak bergeming sedikitpun di panggil oleh panglimanya...namun panglima mengambil langkah mundur lima depa...ketika mendadak melihat tubuh adipati bergetar hebat dan merah menyala..."Oh yang widhi..." pekik panglima melihat pemandangan yang mengerikan sekaligus mengagumkan...sekitar tubuh adipati muncul tulisan aksara yang berterbangan dan merah menyala..."...apakah ini AGNISASTRA Lihat kutipan ajian AGNISASTRA)...ajian yang dimiliki beliau..., semua orang pernah mendengarnya tapi segelintir orang yang melihatnya...dan sebagian yang melihatnya berakhir di liang lahat...menjadi korban ajian ini..." dengan suara bathin panglima menjadi terkaget mendengar suara Adipati..."Suruh para punggawa mundur dan lari sejauh mungkin...", mengerti betapa bahayanya ajian ini bagi sekelilingnya, oanglima langsung tanggap dan kembali ke tengah pertempuran tersebut sambil kelebat kesana kemari...(Panglima Janur Kembang-lihat kisahnya di kutipan) memberi arahan untuk mundur dan menggopoh beberapa yang msaih bisa tertolong...demikian juga punggawa lainnya...

Kini tertinggal adalah makhluk itu dan adipati, dengan gerakan meluncur diudara seperti pedang yang deras menghujam ke arah adipati...adipati hanya berdiri tertunduk menunggu datangnya serangan lawan...ketika makhluk itu tiba satu langkah didepan adipati...tiba dia terhenti...kini aksara itu mulai melilit sekitar tubuh dan tangan makhluk itu...(bersambung)